Dari Diskusi Mahasiswa Jawa Tengah di UMK (2)

Perlu Perda Pengatur CSR

UMK-Meski Corporete Social Responsibilty (CSR) belum memiliki regulasi secara jelas sehingga banyak perusahaan yang belum melaksanakan program tersebut, tetapi Suparnyo SH, MS, sebagai salah satu pembicara dalam diskusi mahasiswa yang melibatkan lima Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) di Jawa Tengah ini tetap menganggap bahwa program CSR merupakan kewajiban bagi setiap perusahaan. Sebab, memajukan pendidikan adalah bagian dari implementasi pelaksanaan hak asasi manusia (HAM) sehingga masyarakat bisa cerdas.

Lontaran Suparnyo pun mampu menghangatkan suasana diskusi yang mengangkat tema Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Terhadap Pendidikan ini. Sebab, kemudian muncul pertanyaan dan komentar yang menggelitik dari para mahasiswa. Misalnya seperti diungkapkan Lusi, peserta diskusi dari Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang. Dia mempertanyakan beasiswa yang diberikan perusahaan kepada perguruan tinggi sulit diawasi. Karena itu, Lusi justru mengusulkan bentuk beasiswa itu bisa diimplemtasikan dalam hubungan saling menguntungkan.

Misalnya perusahaan meminta lulusan dari perguruan tinggi sehingga para lulusan tak kesulitan untuk mencari pekerjaan. Sebab, sudah ada kerja sama yang saling menguntungkan antara perguruan tinggi dengan perusahaan, jelasnya.



Menanggapi pernyataan tersebut, pembicara lain, Sumono SH, dosen Fakultas Hukum UMK, menegaskan bahwa sejatinya selama ini beberapa perusahaan seperti Djarum, Sampoerna, Bakrie Group, dan perusahaan besar lainnya, sudah mempraktikkan secara langsung bagaimana bentuk CSR yang efektif untuk dunia pendidikan. Bahkan, imbuh Sumono, artis seperti Cinta Laura pun ikut peduli pendidikan dengan mendirikan sebuah sekolah untuk orang-orang yang secara ekonomi memang tak mampu. Jadi yang lebih penting adalah praktiknya di lapangan dan kemauan baik. Semua tergantung dari moral pemilik perusahaan itu,tegasnya.

Sementara Dodit, utusan dari mahasiswa Universitas Semarang, menilai, perusahaan perlu proaktif dalam menjalankan CSR-nya. Sebab, itu merupakan bagian dari tanggungjawab perusahaan terhadap masyarakat. Lebih-lebih, masyarakat belum banyak tahu tentang CSR. Perusahaan jangan tinggal diam saja bila masyarakat tak meminta. Jadi harus proaktif dalam mengimplentasikan CSR, pintanya.

Hal itu juga didukung Suparnyo. Menurutnya, orientasi perusahaan yang profit oriented tampaknya sudah saatnya harus ditinggalkan. Bila CSR dimaknai untuk mencari keuntungan jelas keliru. Ya, ada saatnya untuk beramal pada masyarakat. Jadi semua even yang digelar tak harus selalu mencari profit. Saya rasa, ini juga sudah mulai ada kesadaran dari perusahaan-perusahaan, bebernya.


Iin Prihartanti, mahasiswi dari Undip, juga setuju terhadap perlunya CSR untuk pendidikan. Hanya saja, dia meminta agar CSR bisa berjalan efektif, maka perlu perda yang mengatur pelaksanaannya. Jika hal ini tidak diatur, tegasnya, dikhawatirnya kepedulian perusahaan terhadap kemajuan pendidikan kurang. Perusahaan kan beda-beda, ada yang mau melaksanakan dan ada yang tidak. Bila ada aturan jelas, maka setiap perusahaan memiliki kewajiban yang sama, tegasnya yang disampuk tepuk tangan peserta lainnya. (Hoery/Miun-Portal)

Info Kopertis Wilayah VI

Modul Turnitin

 

Panduan Skripsi

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Blog Staff
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib

Journal Hukum

 

 

 

 

 

 

 

 

Go to top